Sabtu, 19 November 2011

AUTOINDIKATOR


A. Pengertian
Dalam titrimetri sebagai penunjuk titik akhir titrasi biasanya menggunakan larutan indikator, tetapi ada beberapa titrasi yang mungkin tidak menggunakan indikator yaitu : titrasi Permanganometri, Serimetri, Iodometri, Iodimetri dan Bromatometri. Hal ini karena pada titik akhir titrasi timbul warna yang disebabkan karena senyawa itu atau perubahan senyawa itu. Tetapi walaupun begitu pada Iodometri, Serimetri, Iodimetri dan Bromatometri umumnya lebih disukai menggunakan indikator. Dalam Prakteknya hanya Metode titrasi Permanganometri saja tanpa menggunakan Indikator luar (Autoindikator).

a. Autoindikator pada Permanganometri
Titrasi Permanganometri biasanya tidak memerlukan indikator karena larutan baku KMnO4 sendiri yang berwarna ungu sudah berfungsi sebagai indikator (biasanya disebut autoindikator). Pada awal titrasi larutan KMnO4 yang berwarna ungu akan hilang warnanya setelah direaksikan dengan analat. Menjelang titik akhir titrasi, dengan kelebihan satu tetes KMnO4 menimbulkan warna yang dengan mudah dapat dipakai sebagai penunjuk berakhirnya titrasi yaitu warna merah muda pucat yang mantap. Hanya 0,01 – 0,02 ml KmnO¬4 sudah cukup untuk memberikan warna yang tampak dalam 100 ml air ( 2 – 4 x 10-6 M ).
Warna pada Titik akhir tiirasi ini tidak tetap bertahan, setelah beberapa lama lenyap kembali akibat reaksi antara kelebihan MnO4- tadi dengan ion Mn++ hasil reaksi penetapan :

2 H¬2O + 2 MnO4- + 3 Mn++ <---------> 5 MnO2 ↓ + 4 H+

Dengan konstan kesetimbangan besar ( 1047 ), Namun karena reaksi sangat lambat warna tidak segera hilang dan tidak perlu menimbulkan keraguan apakah sudah benar mencapai Titik akhir titrasi.
b. Autoindikator pada Iodometri
Titrasi Iodometri dengan Na2S2O3 sebagai titran merupakan titrasi tak langsung berdasarkan pembentukan Iodium, sehingga larutan menjadi kuning sampai cokelat. Titrasi ini dapat dilakukan tanpa indikator dari luar karena warna I2 yang dititrasi akan lenyap bila titik akhir tercapai. Warna itu mula – mula agak cokelat tua lalu menjadi lebih muda kemudian kuning, kuning muda dan seterusnya sampai akhirnya lenyap. Bila diamati dengan cermat perubahan warna tersebut maka titik akhir dapat ditentukan dengan cukup jelas. Konsentasi ≈ 5 x 10-6 M Iod masih tepat dapat dilihat dengan mata dan memungkinkan penghentian titrasi dengan kelebihan hanya senilai 1 tetes Iod 0,05 M.

c. Autoindikator pada Iodimetri
Pada titrasi ini Titik akhir titrasi dapat ditentukan berdasarkan kelebihan dari iodium, Titik akhir titrasi tercapai bila warna larutan dari tidak berwarna menjadi berwarna kuning. Disini perlu diperhatikan bahwa warna kuning yang timbul harus minimal dalam artian warna kuning muda itu jangan sampai kuning tua, karena bila timbul warna yang lebih tua dari itu maka kesalahan titrasi menjadi lebih besar.

d. Autoindikator pada Bromatometri
Dalam titrasi bromatometri, Titik akhir titrasi ditandai dengan warna kuning dari brom bebas pada larutan titrat.
Reaksi yang terjadi mula – mula larutan titer KBrO3 dititrasikan dengan analat dalam suasana asam, setelah analat habis bereaksi dengan KBrO3 , maka kelebihan KBrO3 dalam suasana asam akan terurai menjadi Brom bebas ( Br2 ) yang berwarna kuning.
Reaksi yang terjadi berupa :
KBrO3 + HCl -----> KCl + HBr + 3 O
2 HBr + O -----> H2O + Br2 ( kuning ).
Bila dilihat dengan seksama perubahan warna dari bening menjadi kuning pada Titik Akhir Titrasi, maka masih cukup jelas dengan kesalahan titrasi yang tidak terlalu besar.

INDIKATOR ASAM BASA

Sebagai anak jurusan IPA tentunya kalian udah pernah melakukan  salah satu metode analisis secara titrasi. Selain mudah dilakukan, juga merupakan metode yang sekarang ini sudah sangat umum diguanakan baik dalam skala laboratorium maupun skala industri ataupun penelitian. Agar titrasi berjalan sempurna ada beberapa syarat-syarat titrasi yang harus dipenuhi, begitu juga alat atau peralatan titrasi tentu sudah dimengerti. Tapi terkadang antara hasil titrasi sesuai percobaan dengan perhitungan teori terjadi perbedaan, Banyak hal yang dapat mempengaruhi ini, Salah satunya karena kesalahan pemilihan indikator. Berikut beberapa jenis indikator dan karakteristiknya, serta trayek pH nya...



A. Pengertian
Indikator asam-basa digunakan dalam titrasi Asidimetri dan alkalimetri. Indikator ini bekerja karena perubahan pH larutan. Indikator ini merupakan senyawa organik yang bersifat asam atau basa, yang dalam daerah pH tertentu akan berubah warnanya. Yang menyebabkan indikator asam-basa berubah warnanya bila pH lingkungannya berubah adalah :
1. Indikator asam basa ialah asam organik lemah atau basa organik lemah, jadi dalam larutan mengalami kesetimbangan pengionan,
2. Molekul-molekul indikator tersebut mempunyai warna yang berbeda dengan warna ion-ionnya,
3. Letak trayek pH pada pH tinggi, atau rendah, atau ditengah tergantung dari besar kecilnya Ka atau Kb indikator yang bersangkutan,
4. Terjadinya trayek merupakan akibat kesetimbangan dan karena kemampuan mata untuk membedakan campuran warna-warna.
Andaikata suatu indikator bersifat asam lemah dan kita beri simbol HIn. Dalam pengionannya terjadi kesetimbangan :
HIn <------> H+ + In-
(warna A) (warna B)
Dengan sendirinya letak kesetimbangan tergantung dari pH lingkungannya ; dalam larutan yang asam, pengionan akan tertekan oleh ion-ion H+ dalam larutan yang asam tersebut hingga lebih banyak molekul Hin terdapat dalam larutan itu daripada ion In- ; maka warna larutan lebih banyak ditentukan oleh warna molekul (warna A) daripada oleh warna ion (warna B). Dalam larutan basa, terdapat banyak ion OH- ; ion-ion ini mengikat ion H+ dari kesetimbangan diatas, sehingga kesetimbangan ditarik ke arah kanan. Jadi dalam larutan basa terdapat jauh lebih banyak ion In- daripada molekul-molekul HIn dan warna larutan basa tersebut lebih banyak ditentukan oleh warna B.
Pada setiap pH terdapat kesetimbangan diatas ; hanya letak kesetimbangannya berbeda-beda, lebih kekiri atau ke kanan atau di tengah. Tergantung dari letak kesetimbangan itu, maka perbandingan konsentrasi {[Hin]:[In-]} nialinya besar sekali, besar, kecil atau kecil sekali, tetapi tidak mungkin salah satu spesies tersebut menjadi nol. Berarti, bahwa warna larutan sesungguhnya selalu merupakan warna campuran pula, yakni campuran warna A dan B.
Perubahan warna indikator terjadi, karena pengionannya membawa perubahan struktur yaitu struktur molekul dan ionnya berbeda. Perbedaan struktur bentuk asam dan bentuk basa, itu karenanya mengakibatkan perbedaan warna. Hal ini terjadi karena bentuk yang mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi umumnya bentuk yang berwarna. Konjugasi menyebabkan energi yang diperlukan untuk meningkatkan elektron lebih rendah sehingga cukup dipenuhi oleh sinar tampak ; maka sebagian dari sinar putih diserap dan zat menjadi berwarna. Zat yang tak berwarna menyerap energi yang lebih besar dan hanya tercukupi oleh sinar UV, sehingga sinar putih tidak dipengaruhi dan tidak timbul warna.


B. Pembagian Indikator Asam Basa
Berdasarkan senyawa yang menyusunnya indikator asam - basa diklasifikasikan dalam 3 golongan yaitu :
a. Indikator Ftalein dan Indikator Sulfoftalein
Indikator ftalein dibuat dengan kondensasi anhidrida ftalein (anhidrida ftalat) dengan fenol yaitu terbentuk Fenolftalein. Pada pH 8,0 – 9,8 berubah warnanya menjadi merah. Anggota-anggota lainnya ialah : o-cresolftalein, Thymolftalein, -Naftolftalein.
Indikator Sulfoftalein dibuat dari kondensasi anhidrida ftalein dan sulfonat. Yang termasuk dalam kelas ini : Thymol blue, m-cresol purple, Chlorofenolred, Bromofenolred, Bromofenolblue, Bromocresolred, dan sebagainya.
b. Indikator Azo
Indikator azo diperoleh dari reaksi amina aromatik dengan garam diazonium, misal : Methyl yellow atau p-dimetil amino azo benzene. Methyl Orange, methyl Red dan Tropaelino termasuk dalam golongan ini. Indikator azo menunjukkan kenaikan disosiasi bila temperatur naik. Disini proton ditarik dari ion amonium tersier meninggalkan suatu residu tak bermuatan.
c. Indikator Trifenilmetana
Indikator Trifenil metana seperti Malachite Green, Methyl violet dan Kristal violet merupakan indikator yang memiliki 3 gugus fenol yang dirangkai oleh gugus metana.

Contoh beberapa indikator yang penting :
a. Methyl Orange (MO).
Indikator MO merupakan indikator asam-basa yang berwarna merah dalam suasana asam dan berwarna jingga dalam suasana basa, dengan trayek pH 3,1 – 4,4.
Penggunaan MO dalam titrasi :
1. Tidak dapat digunakan untuk titrasi asam kuat oleh basa kuat, karena pada titik ekivalen tidak tepat memotong pada bagian curam dari kurva titrasi, hal ini disebabakan karena titrasi ini saling menetralkan sehungga akan berhenti pada pH 7.
2. Titrasi Asam lemah oleh Basa kuat. Jelas tidak boleh digunakan karena pada pH + 9. untuk konsentrasi 0,1 M
3. Titrasi Basa lemah oleh Asam kuat, dapat dipakai, tetapi harus hati-hati, titrasi harus dihentikan asal sudah terjadi perubahan warna.
4. Titrasi Garam dari Asam lemah oleh Asam kuat. MO dapat dipakai tetapi titrasi harus dihentikan setelah warna berubah.

b. Phenol Phtalein (PP)
Indikator Phenol phtalein dibuat dengan cara kondensasi anhidrida ftalein (asam ftalat) dengan fenol. Trayek pH 8,2 – 10,0 dengan warna asam yang tidak berwarna dan berwarna merah muda dalam larutan basa.
Penggunaan PP dalam titrasi :
1. Tidak dapat digunakan untuk titrasi asam kuat oleh basa kuat, karena pada titik ekivalen tidak tepat memotong pada bagian curam dari kurva titrasi, hal ini disebabakan karena titrasi ini saling menetralkan sehingga akan berhenti pada pH 7, sedangkan warna berubah pada pH 8.
2. Titrasi Asam lemah oleh Basa kuat. boleh digunakan karena pada pH + 9. untuk konsentrasi 0,1 M
3. Titrasi Basa lemah oleh Asam kuat, tidak dapat dipakai,
4. Titrasi Garam dari Asam lemah oleh Asam kuat. PP tidak dapat dipakai. Trayek pH tidak sesuai dengan titik ekivalen.

c. Methyl Red
Indikator methyl Red adalah indikator asam basa yang memiliki trayek pH 4,2 – 6,3 dengan berwarna merah dalam suasana asam dan berwarna kuning dalam suasana basa.
Penggunaan MR dalam titrasi :
1. Asam kuat dengan Basa kuat. Tidak dapat dipakai karena pada pH 6,3 sudah terjadi perubahan belum mencapai pH 7
2. Asam lemah dengan Basa kuat. Jelas tidak boleh digunakan karena TE pada pH + 9
3. Basa lemah dengan Asam kuat. Tidak disarankan untuk dipakai karena TE pada pH 7, sedangkan indiktor bau berubah pada pH 6,3.
4. Basa kuat dengan Asam kuat. Tidak baik, karena sebelum pada TE pH + 5, indikator sudah berubah warnanya
5. Garam Asam lemah dari Asam kuat. Tidak baik, karena sebelum pada TE pH + 5, indikator sudah berubah warnanya

d. Brom Timol Blue (BTB)
Indikator BTB atau biru bromtimol dalam larutan asam berwarna kuning dan dalam larutan basa berwarna biru. Warna dalam keadaan asam disebut warna asam dan warna dalam keadaan basa disebut warna basa. Trayek pH pada 6,0 – 7,6.
Penggunaan BTB dalam titrasi :
1. Asam kuat dengan Basa kuat, dapat dipakai dan paling ideal, dengan kesalahan titrasi yang kecil. Titrasi encapai pH 7 dengan warna hijau. Ini berarti larutan yang semula kuning berubah jadi hijau, tak perlu sampai jadi biru.
2. Asam lemah dengan Basa kuat. Kurang baik karena trayek pH tidak seluruhnya memotong bagian curam di kurva, sehingga penambahan setetes titrant tidak dapat mengubah warna larutan dari warna kuning menjadi biru. Titrasi harus segera dihentikan pada saat mulai tampak warna biru.
3. Basa lemah dengan Asam kuat. Tidak baik, karena terlalu awal warna timbul .
4. Garam dari Asam lemah oleh Asam kuat. Tidak baik. karena terlalu awal warna timbul .


e. Indikator Campuran
Untuk titrasi-titrasi tertentu kadang-kadang dipakai indikator campuran, yakni campuran antara 2 buah indikator atau campuran sebuah indikator dengan suatu zat warna biasa (bukan indikator pH, jadi tidak dapat berubah warna sekalipun pH berubah ).
Indikator campuran tidak berubah warna seperti indikator biasa, tetapi pada pH tertentu warnanya hilang dalam arti menjadi hitam yang dala prakteknya kelihatan sebagai kelabu. Warna ini tampak jelas berbeda dari warna pada pH sedikit diatas maupun dibawahnya, sehingga sangat mempermudah menentukan apakah larutan sudah mencapai pH tersebut. Bila pH itu bertepatan dengan pH Titik Ekivalen suatu titrasi, maka titik akhir titrasi dapat ditentukan dengan mudah dan dengan ketelitian yang besar. Indikator campuran terutama diperlukan apabila indikator biasa menunjukkan perbedaan warna asam dan warna basa yang kurang jelas, sehingga perubahan warna juga sama sekali tidak jelas.
Warna pada pH tertentu itu hilang karena pada pH tersebut warna kedua zat warna yang dicampur komplementer satu sama lain. Jadi sinar putih akan diserap sebagian spektrumnya oleh zat warna yang satu, tinggal zat warna itu sendiri, tetapi karena warna ini komplementer dengan warna zat warna yang lain, maka sisa ini diserap ; dengan perkataan lain sinar habis diserap, atau menjadi gelap, hitam, kelabu.

Jumat, 18 November 2011

Identifikasi Kation Golongan I-IV


Tujuan
Mengidentifikasi keberadaan kation golongan I – V dalam suatu cuplikan dengan menggunakan reagensia yang ada.

Dasar Teori
            Analisis kualitatif merupakan suatu proses dalam mendeteksi keberadaan suatu unsur kimia dalam suatu cuplikan dan merupakan salah satu cara yang efektif untuk mempelajari unsur-unsur kimia serta ion-ionnya dalam larutan. Dalam metode analisis kualitatif kita menggunakan beberapa pereaksi diantaranya pereaksi golongan dan pereaksi spesifik, kedua pereaksi ini dilakukan untuk menegtahui jenis anion atau kation suatu larutan.
            Reagensia umum yang dipakai untuk klasifikasi kation adalah HCl, H2S, (NH4)2S dan (NH4)2CO3. Berdasarkan karakteristik kation terhadap reagensia, analisis kualitatif pada kation diklasifikasikan ke dalam lima golongan:
1.      Golongan I, membentuk endapan dengan HCl encer. Kation golongan ini adalah timbal (Pb), merkurium (I) (Hg2+), dan perak (Ag).
2.      Golongan II, membentuk endapan dengan H2S dalam suasana asam mineral encer. Kation golongan ini adalah merkurium (II), tembaga, bismuth, cadmium, arsenic (III) dan (IV), stibium (III) dan (V), timah (II), (III) dan (IV). Keempat ion pertama merupakan sub golongan IIA dan keenam yang terakhir sub golongan IIB, sementara sulfida dari kation dalam golongan IIA tak dapat larut dalam ammonium polisulfida, sulfida dalam golongan IIB justru dapat larut.
3.      Golongan (III), membentuk endapan dengan (NH4)2S dalam suasana netral atau amoniakal. Kation golongan ini adalah kobalt (II), nikel (II), besi(II) dan (III), kromium (III) alumunium, zink, serta mangan (II).
4.      Golongan IV, membentuk endapan dengan (NH4)2CO3 dengan adanya NH4Cl dalam suasana netral atau sedikit asam. Kation golongan ini adalah kalsium, strantium, dan barium.

Alat dan Bahan.
Alat yang digunakan :


o       Tabung reaksi
o       Rak tabung reaksi
o       Pipet volume
o       Pipet tetes
o       Piala gelas


Bahan yang digunakan :


o       Ion-ion : (Ag2+, Hg+, Pb2+, Cu2+, Hg2+, Sn2+, Al2+, Co2+, Fe2+, Ni2+, Mn2+ dan Zn2+)
o       HCl
o       NH3
o       H2S
o       HNO3
o       NaOH
o       KI
o       Na2CO3
o       Na2HPO4



Cara kerja
1.      Kation Golongan I : Pb dan Ag
·        Sampel + HCl à amati à + NH3 à amati à + air panas à amati
·        Sampel + (NH4)2S à amati à + HNO3 à amati à didihkan à amati
·        Sampel + NH3 à amati à + NH3 berlebih à amati
·        Sampel + NaOH à amati à + NaOH berlebih à amati
·        Sampel + KI à amati à + KI berlebih à amati
·        Sampel + Na2CO3 à amati à + Na2CO3 berlebih à amati
·        Sampel + Na2HPO4 à amati
2.      Kation Golongan II : Bi3+, Pb2+, Cu2+ dan Hg2+
·        Sampel + (NH4)2S à amati à berlebih à amati
·        Sampel + NH4OH à amati à berlebih à amati
·        Sampel + KI à amati à berlebih à amati
·        Sampel + NaOH à amati à berlebih à amati
3.      Kation Golongan III : Fe, Al, Zn
·        Sampel + NaOH à amati
·        Sampel + NH4OH à amati
·        Sampel + (NH4)2S à amati
·        Sampel + Na-Asetat à amati
·        Sampel + Na-Fosfat à amati
·        Sampel + Na2CO3 à amati
4.      Kation Golongan IV : Ba2+ dan Ca2+
·        Sampel + NH4OH à amati à berlebih à amati
·        Sampel + (NH4)2CO3 à amati à berlebih à amati
·        Sampel + H2SO4 encer à amati à berlebih à amati
·        Sampel + K2CrO4 à amati à berlebih à amati
·        Sampel + K2SO4 à amati à berlebih à amati

Data Pengamatan
1.  Kation Golongan I : Pb dan Ag
Kation
Pereaksi
Reaksi
Pengamatan
Ag+  dalam AgNO3
HCl
 Ag+ + HCl → AgCl ↓ + H-
Larutan jernih, terbentuk endapan putih perak klorida

NH3
AgCl2 + H2O + 4NH3 → [Ag(NH3)2]2+ + 2NH4+ + Cl-
Larutan jernih, terbentuk endapan putih perak klorida

Air Panas
AgCl2 + H2O + 4NH3 → [Ag(NH3)2]2+ + 2NH4+ + Cl-
Endapan larut sebagian
Ag+  dalam AgNO3
(NH4)2S
2Ag+ +  (NH4)2S → Ag2S ↓ + 2NH4
Terbentuk endapan hitam

HNO3
Ag2S + 2HNO3 → 2AgNO3 + H2S
Endapan hitam, terbentuk gas warna putih

Dididihkan
AgNO3 + H2O → AgOH + HNO3
Larutan jernih, terbentuk endapan hitam
Ag+  dalam AgNO3
NH3
2Ag2+ + 2NH3 + 2H2O → Ag2O↓ + 2NH4
Tidak ada perubahan

NH3 berlebih
Ag2O↓+ NH3 → [Ag(NH3)2]+
Tidak ada perubahan
Ag+  dalam AgNO3
NaOH
Ag2+  + 2OH- → Ag2O↓
Endapan coklat

NaOH berlebih
Ag2O↓Coklat + 2OH- berlebih → Ag2O↓
Endapan coklat bertambah
Ag+  dalam AgNO3
KI
Ag2+  + 2I- → AgI↓
Endapan hijau muda

KI berlebih
AgI↓ + I-→ AgI↓
Endapan hijau muda
Ag+  dalam AgNO3
Na2CO3
 Ag2+  + 2CO32- + H2O →  Ag2Co3↓  + CO2 + H+
Endapan putih kkuningan

Na2CO3 berlebih
Ag2Co3↓  →  Ag2O↓
Endapan putih kekuningan
Ag+  dalam AgNO3
Na2HPO4
Ag2+  +   PO43- →Ag3PO4 ↓
Endapan kuning muda, larutan jernih
Pb2+  dalam Pb(NO3)2
HCl
Pb(NO3)2 + HCl → PbCl2↓ +  HNO3
Larutan jernih, terbentuk endapan putih perak klorida

NH3
PbCl2↓ + H2O + NH3 → Pb(OH)2↓ + 2NH4+ + Cl-
Larutan jernih, terbentuk endapan putih perak klorida

Air Panas
PbCl2↓ + H2O + NH3 → Pb(OH)2↓ + 2NH4+ + Cl-
Endapan larut sebagian
Pb2+  dalam Pb(NO3)2
(NH4)2S
Pb2+ +  (NH4)2S → PbS ↓  + 2NH4+
Terbentuk endapan hitam

HNO3
PbS + 2HNO3 → PbNO3 + H2S
Endapan abu-abu, terbentuk gas warna putih

Dididihkan
PbNO3 + H2O → Pb(OH)2  ↓
Larutan jernih, endapan putih
Pb2+  dalam Pb(NO3)2
NH3
Pb2+ +2 NH4OH → Pb(OH)2 ↓ putih + 2 NH4+
Endapan putih

NH3 berlebih
Pb2+ tak membentuk kompleks amina
Endapan putih lebih banyak, larutan keruh.
Pb2+  dalam Pb(NO3)2
NaOH
Pb2+ + 2NaOH → Pb(OH)2 ↓ + 2 Na+
Terbentuk endapan putih.

NaOH berlebih
Pb(OH)2 + 2NaOH → Na2Pb(OH)4
Endapan larut
Pb2+  dalam Pb(NO3)2
KI
Pb2+ + 2KI → PbI2
Terbentuk endapan kuning halus

KI berlebih
PbI2 + 2 KI → K2[PbI4]
Terbentuk endapan kuning halus
Pb2+  dalam Pb(NO3)2
Na2CO3
2 Pb2+  + 2CO32- + H2O →  Pb(OH)2↓putih + PbCO3↓ + CO2
Terbentuk endapan putih

Na2CO3 berlebih
2 Pb2+  + 2CO32- + H2O →  Pb(OH)2↓putih + PbCO3↓ + CO2
Larutan putih
Pb2+  dalam Pb(NO3)2
Na2HPO4
3Pb2+  + 2HPO42- ↔ Pb2(PO4)2↓ + 2H+
Terbentuk endapan putih

2.        Kation Golongan II : Bi3+, Pb2+, Cu2+ dan Hg2+
Kation
Pereaksi
Reaksi
Pengamatan
Pereaksi berlebih
Pb2+
NaOH
Pb2+  + 2OH- → Pb(OH)2↓
Endapan putih, larutan keruh.
Endapan putih bertambah.
Pb(OH)2↓ + 2OH-  → [Pb(OH)4]2-
NH4OH
Pb2+ + NH3 + 2H2O → Pb(OH)2↓+ 2NH4+
Endapan putih, larutan keruh.
Endapan putih, larutan keruh.
KI
Pb2+  + 2I- → PbI2↓
Endapan kuning, larutan kuning.
Endapan kuning, larutan kuning.
(NH4)2S
Pb2+ + (NH4)2S → PbS ↓ + 2NH4+
Endapan hitam.
Endapan hitam pekat.
Bi3+
NaOH
Bi3+ + 3OH-→ Bi(OH)3↓
Larutan putih keruh.
Larutan putih keruh.
NH4OH
 Bi3+ + NO3- + 2 NH3 + 2H2O → Bi(OH)2NO3↓ + 2NH4+
Endapan putih melayang-layang.
Endapan putih bertambah banyak.
KI
Bi3+ + 3I-→ BiI3↓
Larutan kuning
Larutan kuning
(NH4)2S
2 Bi3+ + 3H2S → Bi2S3↓ + 6H+
Larutan coklat kuning keruh.
Larutan coklat kuning keruh.
Cu2+
NaOH
Cu2++ 2OH-→ Cu(OH)2↓biru
Endapan selai biru kehijauan.
Endapan selai biru kehijauan.
NH4OH
2Cu2+ + SO42- + 2 NH3 + 2H2O → Cu(OH)2.CuSO4↓biru + 2NH4+
Endapan biru muda
Endapan biru tua
Cu(OH)2.CuSO4↓biru+ 8 NH3→ 2[Cu(NH3)4]2++ SO42- + 2OH-
KI
2Cu2+ + 5I-→ 2CuI↓putih + I3-
Endapan coklat kekuningan
Endapan coklat kekuningan
(NH4)2S
Cu2+ + H2S → CuS↓hitam + 2H+
Endapan hitam hijau.
Endapan hijau kuning.
Hg2+
NaOH
Hg2+ + 2OH-→HgO↓merah kecoklatan+ H2O
Endapan kuning
Endapan coklat
NH4OH
2Hg2+ + NO3- + 4 NH3 + H2O → HgO.Hg(NH2)NO3↓putih+3 NH4+
Endapan putih.
Endapan putih.
KI
Hg2+ + 2I-→HgI2↓merah
Larutan jingga keruh.
Larutan jingga keruh.
HgI2↓merah + 4I-→[HgI4]2-
(NH4)2S
3Hg2+ + 2Cl- + 2H2S → Hg3S2Cl2↓putih+ 4 H+
Endapan hijau.
Endapan hitam hijau.
Hg3S2Cl2↓putih+ H2S →3HgS↓hitam + 2H++2Cl-


3.       Kation Golongan III : Fe3+, Al3+, Zn3+
Kation
Pereaksi
Reaksi
Pengamatan
Fe3+
NaOH 0.1N
Fe3+  + 3OH-→ Fe(OH)3↓coklat kemerahan
Endapan hijau tua dan koloid di dinding
NH4OH
Fe3+ + 3NH3 + 3H2O → Fe(OH)3↓coklat kemerahan + 3NH+4
Endapan biru tua
(NH4)2S
2 Fe3++ H2S →2Fe2+ + 2H++ S↓hitam
Endapan hitam
Na-asetat
3 Fe3++ 6 CH3COO-+ 2H2O↔ [Fe3(OH)2(CH3COO)6]+↓coklat kemerahan + 2H+
Endapan hijau tua di dinding koloid kuning
Na- pospat
Fe3+ + HPO42-→ FePO4↓putih kekuningan + H+
Enadapan putih
Na2CO3
2Fe3+ + 3Na2CO3→ Fe2(CO3)3PO4↓+ 6Na+
Endapan hijau tua berlebih menjadi biru tua
Al3+
NaOH 0.1N
Al3+ + 3OH- →Al(OH)3↓putih
Larutan keruh
NH4OH
Al3+ + 3NH3 + 3H2O → Al(OH)3↓putih + 3NH4+
Endapan putih
(NH4)2S
3 Al3+ + 3S2- + 6H2O → 2 Al(OH)3↓putih + 3 H2S ↑
Endapan putih
Na-asetat
Al3+ +3 CH3COO-+ 2H2O → 2 Al(OH)2 CH3COO ↓ + 2 CH3COOH
Tidak ada perubahan
Na- pospat
Al3+ + HPO42-→ AlPO4↓gelatin putih + H+
Koloid putih
Na2CO3
Al3+ +  3H2O↔ Al(OH)3↓putih + 3H+
Koloid selai putih, timbul gas
CO32- + 2H+→ H2CO3 → H2O +CO2↑
Zn2+
NaOH 0.1N
Zn2+ + 2OH-→ Zn(OH)2↓gelatin putih
Suspensi putih
NH4OH
Zn + NH3+ + 2H2O ↔ Zn(OH)2↓ putih + 2NH4+
Endapan putih
(NH4)2S
Zn2+ + S2-→ZnS↓putih
Endapan kuning
Na-asetat

Tidak ada perubahan
Na- pospat
3Zn2+ + 2HPO42-↔ Zn3(PO4)2↓gelatin putih + 2 H+
Koloid putih
Na2CO3

Gel putih




4.  Kation Golongan IV : Ba2+ dan Ca2+
Kation
Pereaksi
Reaksi
Pengamatan
Pereaksi Berlebih
 Ba2+
NH4OH
Ba2+ + NH3 + 2H2O → Tidak bereaksi
Larutan keruh
Endapan putih
(NH4)2CO3
Ba2+ + CO32-→ BaCO3 ↓putih
Tidak ada perubahan
Tidak ada perubahan
H2SO4 encer
Ba2+  + SO42-→ BaSO4↓putih
Larutan keruh
Endapan putih
BaSO4↓putih+ H2SO4 pekat → Ba2+ + 2HSO4-
K2CrO4
Ba2+ + CrO4- →BaCrO4↓kuning
Larutan keruh
Endapan kuning
K2SO4
Ba2+  + SO42-↔ BaSO4↓putih
Larutan keruh
Endapan putih
Ca2+
NH4OH
Ca2++ NH3 + 2H2O → Tidak bereaksi
Larutan jernih
Larutan jernih
(NH4)2CO3
Ca2++ Co32-→ CaCO3 ↓putih
Larutan keruh
Larutan keruh
H2SO4 encer
Ca2++ SO42-→CaSO4↓putih
Larutan keruh
Larutan keruh
K2CrO4
Ca2++ CrO4- → Tidak bereaksi
Larutan kuning
Tidak ada perubahan
K2SO4
Ca2++ SO42-→ Tidak bereaksi
Tidak ada perubahan
Tidak ada perubahan

Pembahasan
1.      Kation Golongan I : Pb dan Ag
Terdapat beberapa penyimpangan pada kation Ag,yaitu:
a.       Ketika AgNO3 ditambahkan NH3+ tidak ada perubahan, menurut literatur seharusnya terbentuk endapan coklat perak oksida, dan ditambahkan pereaksi berlebih endapan larut kembali membentuk ion kompleks diaminaargentat dan setelah dpanaskan tidak terjadi perubahan.
      Ag2O↓ + 4NH3 + H2O → 2 [2Ag(NH3)2]+ + 2OH-
         2 Ag+ + 2 NH3+ H2O → Ag2O↓coklat + 2NH4+
b.      Ketika AgNO3 ditambahkan NaOH berlebih didapatkan hasil endapan coklat bertambah, sedangkan hasil sebenarnya adalah  tidak terjadi perubahan.
c.        Ketika AgNO3 ditambahkan KI didapatkan hasil endapan hijau muda, menurut literatur seharusnya endapan perak iodide, dan setelah ditambahkan pereaksi berlebih tidak terjadi perubahan.
Ag2+  + 2I- → AgI↓kuning
AgI↓kuning + I-berlebih → AgI↓kuning
2.      Kation Golongan II : Bi3+, Pb2+, Cu2+ dan Hg2+
ü      Kation Bi3+, terjadi beberapa penyimpangan, yaitu :
a.       Ketika ditambahkan NaOH didapatkan hasil larutan putih keruh, sedangkan menurut literature adalah endapan putih bismuth (III) hidroksida:
Bi3+ + 3OH-→ Bi(OH)3↓putih
Endapan hannya sedikit larut dalam reagensia berlebih dalam larutan dingin, 2- 3 mg bismut terlarut per 100 ml natrium hidroksida (2M).
b.      Ketika ditambahkan KI didapatkan hasil larutan kuning keruh, sedangkan menurut literature hasil sebenarnya adalah endapan hitam bismuth (III) iodide :
      Bi3+ + 3I-→ BiI3↓­hitam
Endapan mudah terlarut dalam reagensia berlebihan, dimana terbentuk ion tetraiodobismut yang berwarna jingga.
      BiI3↓­hitam + I- ↔[BiI4]-↓­jingga
ü      Kation Cu2+,  terjadi beberapa penyimpangan, yaitu :
a.       Ketika ditambahkan KI didapatkan hasil larutan coklat kuning keruh, sedangkan menurut literature adalah endapan putih tembaga (I) iodide, tetapi larutannya berwarna coklat tua karena terbentuknya ion- ion tri-iodida (iod).
2Cu2+ + 5I-→ 2CuI↓putih + I3-
b.      Ketika ditambahkan (NH4)2S didapatkan hasil endapan hitam hijau, sedangkan menurut literature adalah endapan hitam tembaga (II) sulfide:
Cu2+ + H2S → CuS↓hitam + 2H+
ü      Kation Hg2+, terjadi beberapa penyimpangan, yaitu :
a.       Ketika ditambahkan NaOH didapatkan hasil endapan kuning, sedangkan menurut literature adalah endapan merah kecoklatan dengan komposisi yang berbeda- beda, jika ditambahkan dalam jumlah yang stoikiometris, endapan berubah menjadi kuning merkurium (II) oksida.
Hg2+ + 2OH-→HgO↓merah kecoklatan+ H2O
Endapan tidak larut dalam natrium hidroksida berlebih, dengan adanya asam mudah melarutkan endapan yang terbentuk
b.      Ketika ditambahkan KI didapatkan hasil larutan jingga, sedangkan menurut literature adalah endapan merah merkurium (II) iodide.
Hg2+ + 2I-→HgI2↓merah
Dengan reagensia berlebihan endapan melarut, dimana ion tetraiodo-merkurat (II) terbentuk :
HgI2↓merah + 4I-→[HgI4]2-
c.       Ketika ditambahkan (NH4)2S didapatkan hasil endapan hitam hijau, sedangkan menurut literature dengan adanya asam klorida encer, mula- mula akan terbentuk endapan putih merkurium (II) klorosulfida, yang akan terurai bila ditambahkan hydrogen sulfide lebih lanjut, dan akhirnya terbentuk endapan hitam merkurium (II) sulfide.
3Hg2+ + 2Cl- + 2H2S → Hg3S2Cl2↓putih+ 4 H+
Hg3S2Cl2↓putih+ H2S →3HgS↓hitam + 2H++2Cl-
3.      Kation Golongan III : Fe3+, Al3+, Zn2+
ü      Kation Fe3+, terjadi beberapa penyimpangan, yaitu :
a.       Ketika ditambahkan NaOH 0.1 N didapatkan hasil endapan hijau tua dan koloid kuning di dinding, sedangkan menurut literature endapan coklat kemerahan besi (III) hidroksida, yang tak lerut dalam pereaksi berlebihan.
Fe3+  + 3OH-→ Fe(OH)3↓coklat kemerahan
b.      Ketika ditambahkan NH4OH didapatkan hasil endapan biru tua,  sedangkan menurut literature endapan coklat kemerahan seperti gelatin besi (III) hidroksida, yang tak larut dalam pereaksi berlebihan, tetapi larut dalam asam.
Fe3+ + 3NH3 + 3H2O → Fe(OH)3↓coklat kemerahan + 3NH+4
c.       Ketika ditambahkan Na-asetat didapatkan hasil endapan  hijau tua dan di dinding terbentuk koloid kuning, sedangkan menurut literature endapan coklat kemerahan yang disebabkan oleh pembentukan ion kompleks dengan komposisi [Fe3(OH)2(CH3COO)6]+.
                  3 Fe3++ 6 CH3COO-+ 2H2O↔ [Fe3(OH)2(CH3COO)6]+↓coklatkemerahan + 2H+
d.      Ketika ditambahkan Na-pospat didapatkan hasil endapan putih, sedangkan menurut literature endapan putih kekuningan besi (III) fosfat.
            Fe3+ + HPO42-→ FePO4↓putih kekuningan + H+
ü      Kation Al3+, terjadi penyimpangan ketika ditambahkan Na-asetat tidak terjadi perubahan, sedangkan menurut literature tak diperoleh endapan dalam larutan netral dingin, tetapi dengan mendidihkan reagensia berlebihan, akan terbentuk endapan bervolume besar alumunium asetat basa Al(OH)2CH3COO.
Al3+ +3 CH3COO-+ 2H2O → 2 Al(OH)2 CH3COO ↓ + 2 CH3COOH
ü      Kation Zn2+, terjadi penyimpangan ketika ditambahkan (NH4)2S didapatkan hasil endapan kuning, sedangkan menururt literature endapan putih zink sulfide (ZnS), dari larutan netral atau basa, endapan tidak larut dalam reagensia berlebihan, dalam asam asetat, dan dalam larutan basa alkali, tetapi larut dalam asam- asam mineral encer dan endapan ini berbentuk koloid.
            Zn2+ + S2-→ZnS↓putih
4.      Kation Golongan IV : Ba2+ dan Ca2+
ü      Kation Ba2+, terjadi beberapa penyimpangan, yaitu :
a.       Ketika ditambahkan NH4OH didapatkan hasil larutan keruh, sedangkan menurut literatur tidak terjadi endapan barium hidroksida karena kelarutan yang sangat tinggi. Jika larutan yang basa terkena udara luar, sedikit karbon dioksida akan terserap dan terjadi kekeruhan yang ditimbulkan oleh barium karbonat. Sedikit kekeruhan terjadi ketika menambahkan reagensia yang disebabkan oleh sejumlah kecil ammonium karbonat, yang sering terdapat dalam reagensia yang telah lama.
b.      Ketika ditambahkan (NH4)2CO3 tidak ada perubahan, sedangkan menurut literatur terbentuk endapan putih barium karbonat, yang larut dalam asam asetat dan dalam asam mineral encer.
Ba2+ + CO32-→ BaCO3 ↓putih
Jika jumlah endapan barium karbonat sangat kecil, endapan dapat larut dengan baik dalam garam ammonium yang berkonsentrasi tinggi.
ü      Kation Ca, terjadi beberapa penyimpangan, yaitu :
a.       Ketika ditambahkan NH4OH didapatkan hasil larutan keruh, sedangkan menurut literature tidak terjadi endapan karena kelarutan yang sangat tinggi. Dengan zat pengendap yang telah lama dibuat, mungkin akan menimbulkan kekeruhan karena terbentuknya kalsium karbonat.
b.      Ketika ditambahkan (NH4)2CO3, larutan keruh bewarna putih, sedangkan menurut literature terbentuk endapan amorf putih kalsium karbonat.
Ca2++ Co32-→ CaCO3 ↓putih
c.       Ketika ditambahkan H2SO4 larutan keruh bewarna putih, sedangkan hmenururt literature terbentuk endapan putih kalsium sulfat.
Ca2++ SO42-→CaSO4↓putih

Kesimpulan
Dari hasil praktikum didapatkan beberapa penyimpangan. Penyimpangan tersebut dapat terjadi karena beberapa hal, yaitu:
1.     Pengamatan hasil warna kurang baik
2.     Cara penambahan pereaksi yang tidak sesuai dengan prosedur,
3.     Pereaksi yang digunakan terlalu pekat atau terlalu encer,
4.     Kurangnya waktu untuk pembentukan reaksi sehingga reaksi tidak sempurna
5.     Peralatan yang digunakan tidak bersih, sehingga ada zat lain yang ikut bereaksi.